Dilema Cinta dan Keikhlasan

"Ketika semesta tak merestui jalan yang kau pilih, dan kau tak memiliki kuasa apapun. Saat itulah, kau mengutuk keadaan seakan orang yang kau cintai akan kembali dalam dekapanmu. Percayalah, semesta terlalu rahasia soal ini."

***

Di hadapan luasnya laut, aku termenung sendiri mengulang memori itu. Kala kau dan aku datang ke tempat ini, canda tawa menghiasi hari kita, hingga kami tak sadar sang surya mulai menghilang perlahan. 

Tak terasa, pipiku basah oleh air mata. Aku memegang dada, meringis kesakitan, seperti ada rasa yang tak bisa aku definisikan. 

"Aku merindukanmu," ucapku sambil tersedu-sedu.

Saat kepergianmu datang, aku tak sempat mengucapkan kata cinta yang lebih baik. Aku mengutuk kebersamaan kita dengan rasa tidak bersyukur.  

"Kembalikan kekasihku, Tuhan! Banyak kisah yang belum terselesaikan!," kataku dibawah lembayung senja. 

Sejak hari kepergianmu datang, hari-hari yang aku lewati tak lagi berwarna seperti sebelumnya. Benar, aku terlalu terbawa perasaan. Aku ditertawakan oleh keadaan. Kehidupan mengutuk ku lebih dari yang aku kira. 

"Kasih, menyenangkan ya di sana? Aku merindukanmu," ucapku pada hamparan pasir.

Masa sekarang, hanya ada tubuh ringkihku yang berusaha melupakanmu secara perlahan. Biarkan kenangan ini ku simpan dalam relung hati. Biarkan tangis hari ini menjadi bukti keikhlasan ku di masa yang akan datang. Tentang kemarahanku hari ini, semoga sabarku diperluas, demi kembali menjalani hari. Doaku selalu mengiringi langkahmu dimana pun kau berada, kasih. Perihal kisah kita yang tak sempat terselesaikan, biarkan saja. Semoga Tuhan kembali mempertemukan kita pada takdir yang lebih baik, serta dengan versi terbaik kita. Akan ku simpan cinta ini pada takdir milik-Nya. Aku mencintaimu.

Komentar

Postingan Populer