Mencintai Tanpa Restu Takdir
Musim gugur telah datang. Namun diriku masih tertinggal di musim sebelumnya. Melawan kuasa padahal hanya sebatas manusia tanpa asa.
***
Aku menatap gantungan kunci berbentuk daun maple. Mengelusnya secara perlahan, ini mengingatkanku pada hari itu.
"Jean, ini untukmu," ucapnya sambil memberikan kotak beludru berwarna biru.
"Ini apa?," bodohnya aku masih bertanya.
"Untukmu, buka saja," ucapnya memalingkan wajah.
Aku buka kota beludru berwarna biru itu, lucu sekali, kotak ini untuk ku tapi ia memberikan warna kesukaannya padaku. Di dalam kotak itu terdapat satu benda berbentuk daun maple, seperti pin namun tidak ada kaitan dibelakang pin tersebut. Lagi-lagi ia memberikanku kesukaannya.
"Daun maple? Ini apa?," kataku bingung.
"Iya, untukmu. Kau tidak suka ya?"
"Suka, tapi kenapa daun maple? Bukankah itu bunga favoritmu?"
"Memang, tapi aku ingin memberikanmu agar kau mengingatku selalu dan tetap menjadi daun maple dimana pun kau berada."
"Baiklah, terima kasih. Semoga Tuhan mengabulkan doamu," ungkapku sembari menutup kotak beludru berwarna biru itu.
Setelah hadiah pemberian Sean aku terima. Kita berbincang dihadapan danau belakang fakultas psikologi. Ia banyak menceritakan kisah hidupnya padaku. Dengan senang hati aku mendengarkan kisahnya, meski aku tahu tidak ada kisah yang indah dalam cerita Sean hari itu. Dia pandai sekali menyembunyikan hidup peliknya dibalik senyuman yang selalu menghiasi hari-harinya. Persis seperti badut.
Sean mencintai laut, daun maple, musim gugur dan warna biru. Ia tidak akan pernah melupakan hal-hal yang disukainya. Perlahan, aku pun ikut serta menyukai kesukaannya itu, demi bersamanya, meski mungkin tidak selamanya.
Jalan ini sulit sekali ya, mencintai tanpa restu takdir sungguh menyakitkan. Ya, Jeano dan Sean, dua insan yang merajut kasih namun melawan kuasa tanpa peduli konsekuensi. Jeano tetap pada pilihannya untuk memilih Sean sebagai seseorang yang ia genggam tanganya.
"Biarlah takdir bekerja dengan semestinya, dan aku mencintaimu bagaimana seharusnya. Biarkan kita melakukan porsinya masing-masing. Jika memang bukan kamu orangnya, semoga di lain waktu kita dapat merajut kisah dengan takdir yang lebih baik. Untuk saat ini, biarkan aku tetap mencintaimu, Sean," ungkapku pada kotak beludru berwarna biru dengan daun maple didalamnya.
Komentar
Posting Komentar