Langit Favoritku
Satu persatu air mulai turun dari langit, perlahan membasahi bumi.
Ku bawa dirimu menepi pada sebuah bukit yang menampakkan eloknya lampu kota. Saat itu kita hanya diam seribu bahasa, mencoba berdamai dengan ego masing-masing.
"Ada yang ingin kau sampaikan?". Ucapnya dengan nada lembut.
Aku terdiam sejenak melihat keindahan lampu kota sore itu. Dalam pikiranku, orang yang bersamaku saat ini tak kalah indah dengan lampu kota yang ada dihadapanku.
"Tidak ada". Ucapku lirih.
Tak banyak yang bisa aku ucapkan saat ia mengajukan pertanyaan padaku. Yang pasti, hari ini, aku telah membuatnya kecewa.
Aku melihatnya duduk dengan damai memainkan rumput ilalang.
"Jika memang ada yang ingin kau sampaikan, maka sampaikanlah, tidak ada waktu jika kau ingin mengatakannya esok atau lusa." Ucapnya dengan nada lembut. Pertanyaannya membuatku tersadar dari lampu kota yang sedang ku nikmati.
"Maaf, hari ini aku membuatmu kecewa, tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Maaf, untuk menjadi kekasihmu, aku masih banyak kekurangan." Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku telah membuatnya kecewa.
Hatiku patah, sakit, dan aku merasa tak berguna. Kekasih macam apa aku ini, tidak becus membuatnya bahagia. Bahkan saat ini dia rela meninggalkan rumahnya hanya untuk memperbaiki masalah yang justru datangnya pada diriku. Kau memang merepotkan. Pikiranku kala itu kacau balau.
Ia meraih tangan kananku dan berkata, "Tidak apa-apa sayang, biarkan hari ini menjadi pelajaran untuk kita berdua bahwa badai dalam setiap hubungan akan selalu ada, bagaimana nantinya biarkan kita hadapi sama-sama. Jangan lagi mengungkapkan kata perpisahan jika didalam dirimu masih tersimpan namaku. Pikirkan saja bagaimana caranya kita meminimalisir badai itu datang. Jangan menangis, sayang. Kekuranganmu akan aku tutupi. Jangan khawatir, kita bisa jika kita sama-sama." Ucapnya tersenyum.
Dibawah langit, dihadapan lampu kota, aku bersumpah bahwa manusia yang ku tatap saat ini benar-benar memiliki hati selembut malaikat. Kebaikannya dalam memaklumi dan memaafkanku sudah cukup membuatku bersyukur bahwa hanya dirinyalah yang ingin ku pertahankan hingga akhir.
Tak ada kata yang bisa aku ucapkan selain memanjatkan kata maaf dan terima kasih. Bagiku, ia berharga, dan ku langitkan doa-doaku untukmu. Semoga kebaikan, kesehatan, dan kebahagiaanmu selalu tercurahkan. Maaf jika diri ini melakukan kesalahan yang tidak bisa kamu terima.
Selamat malam, langit favoritku.
Atas nama cinta, aku curahkan surat ini untukmu.
Komentar
Posting Komentar