Matinya Sang Wanita Malang

Sumber: Pinterest.com


Setiap malam, Wanita malang itu termenung di depan perapian. Kusut pikirannya, kala nestapa terus menyerang sukmanya. Wanita malang itu terus meratapi nasib ditemani tangis kerinduan.

Sosok “kekasihnya” masih menjadi bayangan imaji yang sekilas seperti fatamorgana pada ujung pantai. 


Wanita malang itu melirik bunga mawar hitam yang terletak di atas nakas. Hadiah terakhir yang “kekasihnya” berikan sebelum akhirnya menghilang dan menyisakan kenangan yang tak bisa terhindarkan.


Sudah sewindu Wanita malang itu menunggu di persimpangan jalan, namun hasilnya nihil. “Kekasihnya” tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Sepertinya, ia hanya ingin menaruh harapan palsu pada Wanita malang itu. Sungguh pelik, karena ia mudah dimanipulasi. 


Sebenarnya, raga Wanita malang itu menolak kepulangan “kekasihnya”, tapi lagi-lagi jiwanya terus setia menunggu, meski mati rasa perlahan mulai menusuk dirinya. 


Bak menaruh cuka diatas luka. Wanita malang itu tetap menerima karsanya untuk terus menunggu “kekasihnya” pulang.


“Meski yang hilang tetap akan tergantikan, namun tidak semua manusia dapat menjadi tempat pulang seperti yang kita inginkan. Aku hanya akan menunggu Kasihku kembali. Walau aku tahu, karsa tetap mengutuk aku dan dirinya yang menentang alam semesta. Aku akan angkuh dengan semuanya.”


Itulah surat terakhir milik Wanita malang, sebelum akhirnya ia “mati” dalam dekapan kerinduan.





Komentar

Postingan Populer