Sehat selalu, Bu
“Nak, ibu habis membeli cemilan untuk menemanimu belajar nanti malam”
“Nak, ibu tidak tahu caranya mengirim kabar lewat aplikasi ini”
“Nak, makan dulu, ibu sudah masakkan makanan kesukaanmu”
“Nak, bantu ibu menjemur baju ya”
“Nak, besok pagi temani ibu ke pasar”
“Nak, jangan lupa sholat”
“Nak, tolong belikan telur di warung”
“Nak, jangan pulang terlalu malam”
“Nak, dimana?”
“Nak, kapan pulang?”
Sudah hampir empat bulan aku tidak mendengar suaramu memenuhi telingaku, bu. Meski terkadang aku selalu membalasnya dengan nada tinggi, namun ibu tetap tidak ambil pusing akan hal itu. Ibu akan tetap menyuruhku makan, meski aku sulit untuk makan. Ibu akan tetap menyuruhku untuk membantu, meski ibu tahu aku akan menolaknya. Bu, rasanya sepi sekali saat ini. Maafkan aku yang jarang memberi kabar pada ibu. Anakmu ini penuh gengsi yang sulit untuk dia lawan. Maaf jika ibu harus selalu memaklumi anakmu.
Bagaimana kabar rumah, bu? Apakah ibu masih tidur di depan televisi? Apakah ibu masih berkeluh kesah soal mesin pengering yang tidak mau hidup? Maafkan aku bu, karena jarang mengunjungi rumah. Maafkan jika aku tidak bisa memakan masakan ibu. Nanti saat aku berkunjung, tolong masakkan sop iga kesukaanku ya bu.
Bu, sehat selalu ya. Tolong temani aku hingga wisuda, bu. Meski mungkin aku belum membanggakan ibu, semoga ibu tetap berkenan menerima segala pemberianku.
Terima kasih karena sudah menjadi ibu yang hebat, untukku. Nanti akan aku usahakan untuk pulang ya bu. Jangan lupa untuk tidur bersamaku di depan televisi.
Selamat hari Ibu, semoga panjang umur dan sehat selalu untuk ibuku.
Komentar
Posting Komentar