Memeluk Diri yang Malang dengan Kemunafikan
Jika semua tak lagi menyenangkan, lantas apa yang menjadi dasar untuk terus menetap?
Sejak hari itu, banyak sekali hal yang berubah padaku. Aku tak lagi bersemangat pada hal-hal yang menjadi kesukaanku. Aku tak lagi banyak bicara bagaimana aku menaruh kepercayaan pada orang-orang disekitarku. Semua, seakan menghakimiku dengan cara mereka masing-masing. Aku merasa, semuanya menempatkanku pada sisi jurang yang kedalamannya tidak pernah diketahui.
Apakah ini semua hanya perasaanku saja?
Aku menepis semua dugaanku yang tidak semestinya itu.
Namun, jika dapat aku katakan, “ini sungguh menyulitkanku,” aku tak lagi
menjalaninya dengan suka cita. Dengan posisiku yang kini dibutuhkan, aku merasa
semua hal menjadi kesalahanku, ketika hal-hal tersebut tidak sesuai dengan
harapanku. Aku bersalah untuk semuanya.
Puncaknya, aku hanya dapat merengkuh jiwaku sendiri. Aku
hanya dapat menatap langit, ketika ragaku tak lagi dapat menahan air mata. Aku menahan
diriku untuk mengamuk pada semua orang. Aku menahan diriku dengan tetap berbuat
baik pada sekitarku. Aku munafik pada diriku sendiri. Aku mengkhianati jiwa
yang malang ini.
Ketika aku merasakan semua kemalangan itu, aku mencari tempat yang jauh dari keramaian. Mencari tempat perasingan, hanya untuk menahan amarah yang sudah menggebu-gebu. Aku menahannya sekuat tenaga, agar tak menyakiti semua orang. Aku menjadi manusia yang angkuh untuk diriku sendiri.
Kenapa ini begitu menyakitkan bagiku?
Karena aku senang menyulitkan
diri sendiri dengan semua tanggung jawab yang menjadi prioritas utamaku. Namun aku
lupa, bahwa tidak semua orang dapat menghargai apa yang menjadi tanggung
jawabku. Semua seakan egois pada dirinya masing-masing, dan menganggap bahwa
sebagian orang mampu mengerjakan hal itu. Padahal sebenarnya, kita semua sama. Sama-sama
egois pada keputusan masing-masing.
Komentar
Posting Komentar