Aku Benci Pemakluman

Sudah hampir setengah jam aku mencarinya di sekitar kampus. Pikirku kemana hilangnya sampai tak bisa aku temukan. Ah! kakiku mulai terasa sakit. Setelah pencarian yang melelahkan, aku teringat satu tempat yang selalu kita kunjungi ketika sedang tidak baik-baik saja. Aku mulai bergegas untuk menghampiri tempat itu, dan benar saja ia sedang disana dengan tumpukan buku di sampingnya. Saat itu, ia sedang menatap danau dengan wajah yang sulit diartikan. Aku menghampirinya dan memberikan satu kaleng soda kesukaannya. Kita berbincang cukup lama disana. Katanya, hari ini banyak sekali manusia yang ingin diperlakukan istimewa. Banyak dari mereka yang ingin dikasihani, namun tak turut serta mengasihani yang lainnya. Sepertinya, harimu kian sulit. Aku mencoba untuk menanyakan keadaannya, namun jawaban yang selalu keluar dari mulutnya sungguh tidak ingin aku dengar. 

"Aku baik-baik saja,"

Baik-baik saja dengan wajah yang rumit, baik-baik saja dengan mata yang menahan amarah. Ia tidak ingin mengatakan yang sesungguhnya, karena ia menganggap tidak semua orang akan mengerti apa yang ia rasakan. Dasar manusia, senang menyulitkan dirinya sendiri hanya karena tidak ingin membuat keadaan semakin rumit. 

Namun, selama perbincangan panjang itu ada satu hal yang menjadi sorotan bagiku. Katanya, pemakluman yang tiada henti hanya akan membuat manusia semakin besar kepala. Merasa di agungkan layaknya paling benar. Aku yang mendengarkan ceritanya, sungguh tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang manusia ingin selalu tampil didepan layar, ketika manusia lainnya ingin mencoba melakukannya?

Yang membuatku kesal ia tak mengatakan dengan jelas bagaimana isi hatinya. Padahal, apa salahnya mengungkapkan? Apa salahnya marah pada pemakluman sialan itu? Diperbudak dengan kata-kata politis yang orang lain ungkapkan tidak akan membuatmu bersuka cita. Sudah lah jika memang tidak suka, ya katakan tidak suka. Jangan menjadi lapang bagi mereka yang tidak ingin mengerti dirimu. 

Sejak pertemuan hari itu, aku menyadari satu hal. Manusia yang selalu diberikan pemakluman secara terus menerus, hanya akan merugikan orang lain. Ia akan membuat pemakluman dengan mengatur keadaan sesuai dengan yang diharapkannya. Dengan pemakluman yang diberikan kepadanya, membuatnya semakin egois kepada semua orang. Ia lupa, bahwa aku, kamu, dan dia pasti memiliki kesakitan yang sama, namun dengan sebab yang berbeda-beda. Jadi, tidak ada yang bisa dibandingkan, karena kita semua sama. 

 


Komentar

Postingan Populer