Seperti Daun Maple yang Rumit
(Foto: Ilustrasi dibuat dengan AI Factory/Nunara)
Musim dingin telah berganti, kini bunga-bunga mulai terlihat bermekaran. Rasanya, musim semi saat ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Entah mengapa, tapi daun kesayangan milik Sean tampak begitu sangat cantik.
Dibawah pohon maple, aku raih sebuah kotak beludru berwarna biru pemberian Sean di dalam kantong jaketku.
Aku pandangi kotak itu dengan banyaknya pertanyaan dalam benakku.
"Mengapa?" dan "Ada apa?"
Sean begitu aneh memberikanku kotak ini. Ia memberikanku dengan raut wajah yang tidak bisa aku artikan.
Sean kekasihku, Sean sang pemilik hatiku, Sean yang menyukai daun maple, Sean yang menyukai warna biru itu, memang terlalu pelik untuk bisa aku jelaskan.
Tidak banyak kalimat yang bisa aku deskripsikan mengenai dirinya. Namun, yang aku tahu, dia sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Aku baik-baik saja, Jeano," ungkap Sean.
Kalimat bohong yang selalu keluar dari dalam mulutnya itu, sungguh membuatku jengah. Aku tidak tahu mengapa orang-orang selalu mengatakan hal yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, hanya untuk membuat orang berhenti mengkhawatirkannya. Sungguh aku tidak mengerti. Apakah dengan berkata demikian, orang yang mengkhawatirkanmu akan berhenti khawatir? Aku rasa tidak. Itu sama sekali bukan kalimat penenang yang meyakinkan.
"Sean, ada apa denganmu?,"
"Apakah dunia menyakitimu lagi?,"
"Kenapa? Kenapa tidak kau ceritakan semuanya padaku?,"
Aku mengambil satu kertas bertuliskan 'untuk Jeano yang menyukai daun maple karenaku' di dalam buku catatanku. Isi surat itu merupakan tulisan tangan Sean dengan tanda tangan rumitnya di pojok bawah sebelah kanan.
Di suatu tempat, suatu hari nanti
Aku ingin bertemu denganmu lagi
Dan kembali jatuh cinta
Saat itu, aku melihatmu sebagai sosok yang akan pergi jauh
Sesuatu dalam diriku lantas terasa begitu sakit
Di suatu tempat, suatu hari nanti, saat kita akan berpisah
Bagaimana jika aku harus melupakanmu selamanya? Rasanya aku tidak bisa, Jeano
Ini membuatku semakin takut kehilanganmu
Bahkan, meski aku sedang menggenggam tanganmu atau sedang bersamamu
Aku kembali menatap mu dalam-dalam
Layaknya, hal ini adalah kali pertama aku bertemu denganmu
Seolah-seolah, aku tak akan melihatmu esok hari
Cinta membuatku tidak sabaran, Jeano
Semoga kamu selalu ingat dengan kisah kita, meskipun kita tidak pernah tahu akan berakhir seperti apa kisahku dan dirimu.
Begitulah kiranya isi surat yang ditulis oleh Sean waktu itu. Surat dengan cap daun kesayangannya. Sean begitu menyukai daun maple. Hingga katanya, ia akan mencintai daun maple melebihi cintanya padaku. Aku sih tidak masalah selama Sean menyukainya dan dapat membuatnya tersenyum. Namun, menjadi daun maple sepertinya sulit karena harus berganti warna dan bertahan di empat musim wilayah subtropis. Sean dan daun maple sama rumitnya bagiku. Namun, aku akan tetap mencintai keduanya dengan sangat. Bagiku rumitnya Sean akan aku tangani sebisaku, entah dengan ilmu yang aku pelajari di perkuliahan, entah dengan naluriku, entah dengan pembicaraan antara aku dan Sean.
Aku menatap daun maple di hadapanku, "Kau sangat rumit sama halnya dengan Sean," ungkapku pada daun maple.
Komentar
Posting Komentar